Jumat, 12 Desember 2014

Miss you again...


Hai kamu, iya kamu yang memiliki senyum yang meneduhkan, dekapan yang menghangatkan, bahu yang nyaman untukku menyandarkan segala keluh kesah, dan mata yang selalu mendamaikan.. Aku rindu, begitu rindu akan hadirmu. Rindu dengan semua ceritamu, rindu dengan senyum dan wajahmu. Kamu apa kabar? Aku selalu berdoa semoga kamu baik-baik aja dan akan selalu baik tanpa aku. Aku di sini pun sama akan selalu (berpura-pura) baik dan bahagia seperti yang kamu mau. Eh tapi ini ternyata gak mudah yah, aku masih selalu dan akan selalu berharap kalau kamu akan berbalik dan berjalan menuju aku lagi. Tapi apa mungkin? Mungkin aku hanya seorang pemimpi parah yang terlalu takut untuk bangun dan menghadapi kenyataan bahwa kamu udah gak ada di sini.
Kamu tau ga, semenjak kamu pergi otak aku jadi Italic alis miring. Aku kehilangan akal sehatku, aku kehilangan arah tanpa kamu. Walaupun bibir tersenyum tapi di dalem hati dan jiwa rasanya hampa. Apa kamu juga merasakan? Apa hanya aku saja yang merasakan itu? Kamu ada dimana sekarang? Aku rindu, begitu rindu......
Aku hanya bisa mengirimimu doa yang terbaik dari sini, aku tak pantas dan aku malu jika aku harus bertegur sapa walaupun hanya menanyakan kabar kepadamu. Karena seharusnya aku mengubur dan membuang semua perasaan ini seperti kamu yang sudah mengubur dan membuang atau bahkan kamu telah menenggelamkannya. Aku tau dan aku sadar bahwa kehadiran aku di hidup kamu itu hanya membuat hidupmu sulit dan susah, maaf ya seharusnya aku menyadari itu sejak dulu. Sekarang aku akan menebusnya, aku takkan membuat hidupmu sulit lagi. Teruslah berjalan ke depan jangan pernah hiraukan aku, aku akan baik-baik saja selama aku liat kamu bahagia dan doakan aku juga ya semoga aku bisa seperti kamu. Iya seperti kamu yang bisa berjalan ke depan dan bisa melupakan segalanya.
I'll always love you my summer sunshine, always miss you...

Rabu, 10 Desember 2014

Lelah .....


Lelah...
Mungkin itu yang sekarang aku rasakan. Iya, aku lelah. Lelah dengan semua yang terjadi, rasa hampa dan sendiri di tengah keramaian. Bibir selalu tersenyum dan tertawa tapi dalam hati menjerit terkoyak terluka parah. Luka yang semakin dalam, luka yang sama oleh orang yang berbeda. Bodoh, mungkin iyah aku ini bodoh. Bodoh karena tak pernah belajar dari kesalahan masalalu dan selalu jatuh di lubang yang sama. Lebih bodoh dari keledai, karena keledai saja tak mau jatuh di lubang yang sama. Terkadang aku menyesalkan kenapa aku selalu bodoh dan terlalu percaya. Ahhh sudahlah mungkin ini cara Tuhan mendewasakanku dan ingin aku belajar tentang kehidupan dan aku yakin bahwa Tuhan akan selalu memayungiku ketika hujan membasahi bumi. Aku percaya Tuhan menciptakan luka dan obatnya secara bersamaan dan nurani yang akan menuntunku menuju obat itu.

Kamis, 30 Oktober 2014

Saya Rindu

Hai apa kabar kamu pria baik dan terbaik yang pernah saya miliki? Semoga hari-hari kamu penuh kebahagiaan ya. Saya di sini selalu berdoa yang terbaik untuk kebahagiaan kamu. Ada cerita apa hari ini? Saya rindu, rindu dengan semua kebiasaan dan kebersamaan kita dahulu. Ketika rindu itu hadir, saya hanya bisa bersujud, menangis dan mengadu pada Sang Maha pemberi rindu. Saya tak bisa berbuat apa-apa ketika rindu itu hadir. Saya hanya bisa memberi tau pada Sang Maha bahwa saya sedang merindukan kamu, saya mengirim Al-Fatihah untuk kamu dan mendoakan yang terbaik untuk kamu. Tak ada daya dan upaya yang bisa saya lakukan. Saya sadar betul saya ini siapa, saya tak berhak dan tak pantas untuk mendekati kamu lagi. Saya cukup tau diri, karena keadaan sudah berbeda. Saya hanya bisa terdiam ketika perlahan dan pasti kamu berjalan memunggungi menjauhi saya. Apa saya ikhlas? Apa saya sakit hati? Saya hanya manusia biasa bukan malaikat tapi saya belajar ikhlas menerima, belajar berlapang dada dan percaya Allah akan selalu ada untuk saya. Siap memeluk saya, memapah saya dan bantu saya bangkit kembali. Saya hanya perlu waktu dan ruang untuk mengembalikan akal sehat saya. Karena setelah kepergiaan kamu, segalanya terasa sulit dan berbeda. Jika bernafas itu tak secara otomatis mungkin saya sudah berhenti saking sering bengongnya. Setelah kamu pergi entah kenapa segalanya terasa berbeda. Saya merindukan wajah dan senyum yang meneduhkan itu.
Kamu baik-baik ya, jangan lupa solatnya. Maaf kalau saya masih sering merindukanmu. Berbahagialah untukku....

Jumat, 19 September 2014

Persimpangan Jalan Part 1

PERSIMPANGAN JALAN
By : Yayu Susiyanti

 Pagi ini matahari malu-malu keluar dari peraduannya, sesekali mengintip di balik awan biru. Panasnya belum seberapa di bandingkan panasnya mata dan hatiku, ah tunggu ku rasa hatiku tak panas tetapi perih. Iya perih, ibarat luka terus di tetesi oleh jeruk nipis. Hahaha tidak separah itu juga.

Perkenalkan namaku Kalila, aku hanya seorang gadis yang biasa saja tak punya kemampuan apapun selain berdiam menyepi dan duduk lama menatap layar computer atau notebook hanya untuk menulis. Tapi hanya itu yang bisa membuat perasaanku lebih baik dan bahagia. Bahagia yang sederhana hanya dengan bisa berbagi cerita dan motivasi.
Perasaanku hari ini campur aduk seperti gado-gado, mau marah tapi untuk apa? Mau menangis tapi terlalu lelah untuk menangisi hal yang sama dan berulang-ulang. Aku tau menangis itu wajar dan gak dosa karena ada saatnya kita memberikan hak kepada mata untuk menangis dan dengan menangis kita sadar kalau kita mempunyai hati dan mata yang berfungsi dengan baik.

“Kalilaa…” Panggil Thyara
Aku menoleh dan kembali menunduk menatap layar notebook putihku.
“Dihh bukannya nyaut, malah sibuk sendiri” Oceh Thyara

Thyara Anggina, sahabat terbaik yang ku punya saat ini. Sahabat yang sekaligus musuh bubuyutan karena dia itu rese dan menyebalkan tak kenal waktu. Tapi aku sangat menyayanginya, dia sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri. Hanya dengan dia aku bisa menjadi diriku apa adanya, hanya kepada dia aku bisa mengadu ini-itu tanpa harus ada kata sungkan. Dia adalah orang yang pertama kali merangkul dan mengulurkan tangan ketika aku jatuh ke pelosok, yah walaupun dia pasti akan menertawakanku terlebih dahulu. Belum namanya sahabat kalau pas curhat sedih di ketawain dulu. Yaaa you’re my best friend walaupun kadang gak pernah akur.
“hah??..” Aku menatapnya sesaat lalu kembali menunduk.

“Ahh elahh, cape ya ngomong sama tembok” Thyara mulai kesal padaku. “Mau sampai kapan menyiksa diri seperti ini Kalila?”

Jumat, 12 September 2014

sepi teman sejatiku..

Ini kah yang namanya jatuh tersungkur dan terinjak? Terombang-ambing tak tau arah kemana lagi kan berlabuh. Aku lemah, aku hampa, aku lelah dengan semua. Lelah menangis setiap kali teringat kamu yang tak pernah pedulikan aku, lelah tertimbun dengan harapa-harapan yang sudah runtuk luruh rantak. Aku bisa apa? Aku tak bisa apa-apa, aku hanya bisa menangis, merintih saat bersujud pada Sang Maha. Dia tau betapa sibuknya aku mengadu di sepertiga malam. Hanya Dia yang menjadi temanku yang tak pernah bosan mendengarkan keluhanku, mendengarkan rintihan hati yang benar-benar sakit. Dia selalu memelukku, merawat lukaku, menenangkanku walaupun terkadang tak ingin bernafas lagi. Ya Sang Maha, hilangkan rasa itu dariku, rawat aku dalam dekapmu jangan sampai aku melakukan tindakan konyol seperti itu. Tadinya aku ingin marah karena dia memilih pergi meninggalkanku tapi semua itu tak aka ada gunanya. Lebih baik menangis daripada marah karena kemarahan hanya akan menyakiti dan menggores luka di hatinya tapi tidak dengan menangis.
Entah sejak kapan aku lebih memilih sunyi menjadi temanku ketimbang keramaian. Barangkali dengan sunyi, aku bisa mengenangnya kapanpun aku mau.

Minggu, 24 Agustus 2014

Mengagumi dari jauh.

Hari ini sama seperti hari kemarin terasa hampa, kosong dan rasa kehilangan campur aduk tak karuan. Feel so blue and sad.
Mungkin benar kalau saya ini lemah, cengeng dan lebay. Tapi, kalau soal perasaan bukan hanya saya saja yang lebay. Pasti semua orang pun pernah mengalami masa lebay gara-gara merasakan sakit dan pahitnya rasa kehilangan.
Hari ini terasa sangat membunuh waktu, waktu berjalan begitu lambat. Kenapa ketika kita sedang bahagia waktu berjalan begitu cepat. Tetapi ketika kita sedang bersedih, waktu seakan-akan membunuh perlahan dan menenggelamkan kita dalam kesedihan.
Dia terasa mulai menjauh, ya dia mulai menjauhi saya yang hanya bisa menatapnya dari balik layar handphone. Menyedihkan? Iya sangat. Tak ada lagi yang bisa saya lakukan untuk mendekatinya. Tak ada daya upaya, dia semakin terasa jauh hingga pada akhirnya tak bisa saya sentuh hanya bisa memandangnya dari kejauhan dan hanya lewat doa saya bisa memeluknya dan menitipkan kebahagiaannya kepada Sang Maha Agung.

Sabtu, 23 Agustus 2014

kembali... mungkin?

Malam ini aku gak bisa bobo, aku keingetan kamu. Kamu inget aku gak? Kamu mikirin aku juga gak? Gak tau kenapa sekarang itu hidup aku terasa kosong, aku hilang arah tanpa kamu. Terdengar lebay mungkin tapi memang itu yang aku rasain. Aku ngerasa separuh aku itu kosong dan hampa.
Kamu tau, aku tiap hari selalu ngerasa sepi tanpa kamu. Suka mendadak nangis kalau keinget sama kamu. Cengeng ya? Iya aku memang cengeng. Aku cengeng karena kamu. Aku juga capek nangis, nangis, nangis dan nangis. Tapi cuma itu yang bisa aku lakuin buat ngungkapin rasa di hati aku.
Aku kangenn sama kamu, aku mau kita kaya dulu lagi. Tapi apa masih mungkin?